site.pilih_bahasa

Pemberdayaan Preseptor Apoteker: Prodi Sarjana Farmasi UDB Surakarta Gelar Pelatihan Strategis untuk Perkuat Kualitas PKPA

  • Kategori: Berita Universitas
  • Tanggal: 05 Mei 2026
Program Studi Sarjana Farmasi Universitas Duta Bangsa kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan profesi Apoteker dengan menyelenggarakan pelatihan preseptor bagi para apoteker praktisi di lingkungan mitra kerja kampus secara Hibrid pada 29 – 30 Mei 2026 di Surakarta Grand City Hotel. Tim pelaksana acara beranggotakan 7 orang ini dipimpin oleh Sekretaris Program Studi Sarjana Farmasi, Ibu apt. Anna Fitriawati, M.Farm. Acara ini dihadiri oleh puluhan peserta Luring dan Daring yang berasal dari berbagai lahan praktik kerja, mulai dari rumah sakit, apotek, hingga industri farmasi. Pentingnya peran preseptor dalam mendampingi mahasiswa Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) menjadi alasan utama urgensi pelaksanaan agenda ini. Pelatihan ini dirancang untuk menjembatani antara teori akademis yang didapatkan di bangku kuliah dengan realitas praktik lapangan yang dinamis. Melalui program ini, kampus berharap dapat menyatukan persepsi mengenai standar bimbingan yang harus diberikan kepada mahasiswa. Partisipasi aktif para apoteker menunjukkan semangat kolaborasi yang tinggi demi kemajuan profesi farmasi di masa depan. Seluruh rangkaian acara disusun secara sistematis agar peserta mendapatkan pemahaman yang komprehensif. Suasana pelatihan berlangsung sangat kondusif dengan diskusi interaktif yang terjadi sejak awal pembukaan.

Pilar utama dari pelatihan ini adalah kehadiran lima narasumber ahli yang berasal dari Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia untuk memberikan wawasan mendalam. Acara diawali dengan sambutan sekaligus motivasi untuk seluruh peserta preseptor oleh Wakil Rektor 1 bagian akademik, Bapak Tominanto, S.Kom., M.Cs mewakili Bapak Rektor Universitas Duta Bangsa Assoc. Prof. Dr. Singgih Purnomo, M.M. Sesi pertama dibuka oleh Prof. Dr. apt. Yandi Syukri, M. Si. yang membawakan materi berjudul "Mendidik Apoteker Masa Depan: Transformasi Pedagogi di Era Revolusi Industri 4.0". Beliau menekankan bahwa pola pengajaran harus segera bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi digital yang begitu pesat. Mahasiswa saat ini membutuhkan pendekatan yang lebih dari sekadar transfer pengetahuan konvensional di lahan praktik. Revolusi industri menuntut apoteker untuk memiliki literasi data dan kemampuan adaptasi yang luar biasa tinggi. Prof. Yandi menjelaskan bahwa teknologi bukan menggantikan peran manusia, melainkan memperkuat akurasi dalam layanan farmasi. Peserta diajak untuk mengubah mindset agar tidak terjebak pada metode bimbingan lama yang sudah tidak relevan. Transformasi pedagogi ini menjadi fondasi awal bagi para preseptor untuk memulai tanggung jawab mereka.


Sesi berlanjut dengan materi yang sangat fundamental mengenai identitas seorang pembimbing yang dipaparkan oleh Dr. apt. Dewi Setyaningsih, M. Sc. Dalam paparannya yang berjudul "Peran Preseptor sebagai Panutan dan Pendidik", beliau menguraikan pentingnya keteladanan dalam praktik sehari-hari. Seorang preseptor bukan hanya pengawas, melainkan sosok yang gerak-geriknya akan dicontoh oleh mahasiswa secara langsung. Integritas, etika profesi, dan sikap profesional harus terpancar dari setiap tindakan apoteker di lahan praktek. Dr. Dewi menekankan bahwa aspek afektif mahasiswa sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara preseptor berinteraksi dengan pasien dan tenaga kesehatan lainnya. Pendidik di lahan praktik harus mampu menularkan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap pelayanan kefarmasian. Peserta diingatkan kembali bahwa mereka adalah cermin bagi masa depan profesi yang sedang dibentuk melalui mahasiswa bimbingannya. Materi ini memberikan sentuhan emosional sekaligus motivasi bagi para apoteker untuk menjaga marwah profesinya. Sesi ini diakhiri dengan tanya jawab yang cukup mendalam mengenai tantangan menjaga konsistensi sikap profesional di lapangan.

Tidak berhenti di sana, Dr. apt. Dewi Setyaningsih, M. Sc. kembali memberikan penguatan teknis melalui materi "Peran Preseptor sebagai Fasilitator dan Evaluator". Beliau menjelaskan bahwa membimbing mahasiswa memerlukan kemampuan untuk memfasilitasi kebutuhan belajar mereka secara mandiri namun tetap terarah. Preseptor harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif di tengah kesibukan operasional lahan kerja. Selain memfasilitasi, kemampuan melakukan evaluasi yang objektif dan terukur menjadi poin krusial yang harus dikuasai oleh setiap pembimbing. Dr. Dewi memaparkan berbagai instrumen penilaian yang bisa digunakan untuk mengukur kompetensi mahasiswa secara adil. Pemberian umpan balik yang konstruktif sangat diperlukan agar mahasiswa mengetahui kekurangan dan area yang perlu diperbaiki. Evaluasi bukan bertujuan untuk menjatuhkan, melainkan sebagai sarana pengembangan diri bagi mahasiswa PKPA. Peserta pelatihan diajarkan cara menyusun laporan evaluasi yang akurat berdasarkan standar kompetensi apoteker Indonesia. Penjelasan teknis ini menjadi bekal yang sangat praktis bagi peserta saat kembali ke lahan praktik masing-masing.


Aspek kolaborasi antar tenaga kesehatan juga menjadi sorotan utama dalam pelatihan ini melalui paparan dari Dr. apt. Valentina Yurina, S.Si, M.Si. Beliau membawakan materi penting mengenai "Interprofessional Education (IPE) & Interprofessional Collaboration (IPC)" pada hari Kedua. Dalam dunia kesehatan modern, apoteker harus mampu bekerja sama secara harmonis dengan dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya. Dr. Valentina menjelaskan bahwa mahasiswa PKPA harus mulai diperkenalkan dengan budaya kolaborasi ini sejak dini di lahan praktik. Preseptor memegang peranan penting untuk membuka akses bagi mahasiswa agar bisa berinteraksi dalam tim kesehatan secara profesional. Kolaborasi yang baik terbukti dapat menurunkan angka kesalahan medis dan meningkatkan kualitas hidup pasien secara signifikan. Mahasiswa perlu melihat secara langsung bagaimana apoteker memberikan masukan klinis dalam diskusi tim medis. Materi ini memberikan gambaran luas bahwa farmasi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem perawatan pasien yang holistik. Melalui IPE dan IPC, diharapkan lulusan apoteker nantinya memiliki kepercayaan diri yang tinggi dalam berkomunikasi antar profesi.

Memasuki ranah teknis manajerial dan komunikasi, sesi berikutnya menghadirkan dua pakar yang memberikan panduan operasional di lapangan. Materi "Menguasai Keterampilan Manajemen Preseptor PKPA" disampaikan oleh apt. Muhammad Ikhwan Rizki yang fokus pada tata kelola bimbingan. Beliau memaparkan bagaimana cara mengatur jadwal praktik, pembagian tugas, hingga manajemen logistik edukasi agar tidak mengganggu pelayanan utama. Setelah itu, apt. Erindyah Retno Wikantyasning, Ph.D. melengkapi pelatihan dengan materi "Komunikasi Interpersonal dan Manajemen Konflik". Beliau menyadari bahwa perbedaan persepsi antara preseptor dan mahasiswa seringkali memicu konflik internal di lahan praktik. Oleh karena itu, keterampilan komunikasi yang efektif menjadi kunci untuk meredam ketegangan dan menjaga motivasi mahasiswa. Manajemen konflik yang baik akan mengubah tantangan di lapangan menjadi peluang pembelajaran bagi kedua belah pihak. Peserta diberikan simulasi kasus-kasus komunikasi yang sering terjadi agar mereka siap menghadapi berbagai karakter mahasiswa. Kombinasi manajemen dan komunikasi ini menutup rangkaian materi teknis dengan sangat komprehensif bagi seluruh peserta.


Sebagai penutup, acara pelatihan preseptor ini diakhiri dengan penyerahan sertifikat secara simbolis kepada perwakilan peserta dari berbagai instansi. Pihak universitas menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para narasumber atas ilmu yang sangat bermanfaat bagi kemajuan institusi. Harapan besar ditumpukan kepada para preseptor agar mampu mengimplementasikan seluruh materi yang telah didapatkan di lahan praktik masing-masing. Pelatihan ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan investasi jangka panjang untuk menghasilkan apoteker yang kompeten dan berdaya saing global. Keberhasilan mahasiswa dalam menempuh ujian kompetensi nantinya tentu tidak lepas dari peran bimbingan berkualitas yang diberikan oleh preseptor. Para peserta pun menyatakan merasa lebih siap dan percaya diri dalam menyambut mahasiswa PKPA di periode mendatang. Acara ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol sinergi antara akademisi dan praktisi dalam dunia farmasi. Semoga semangat transformasi ini terus terjaga demi peningkatan standar layanan kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Akhir kata, kolaborasi yang kuat adalah kunci utama dalam mencetak generasi apoteker masa depan yang unggul dan berintegritas.



berita_lain