site.pilih_bahasa

Peringati Hari Pangan Sedunia, HIMA dan Prodi TRP UDB Surakarta Dorong Inovasi Pangan Lokal Non-Gluten untuk Kesehatan Usus

  • Kategori: Berita Universitas
  • Tanggal: 27 Oktober 2026
Pada hari Selasa, 27 Oktober 2026 Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Pangan berkolaborasi dengan Program Studi Teknologi Rekayasa Pangan Universitas Duta Bangsa Surakarta menyelenggarakan Kuliah Pakar dengan tema “Beyond Gluten : Inovasi Pangan Lokal Bakery Non-Gluten Dan Mikrobiota Usus”.

Melalui Kegiatan Kuliah Pakar yang digelar di Ballroom 1 UDB Kampus Nusukan, Surakarta, mahasiswa dan masyarakat umum yang hadir diajak untuk mengetahui pentingnya diversifikasi pangan lokal sebagai solusi atas tantangan ketergantungan impor gandum negara serta meningkatkan kesadaran akan kesehatan ekoistem usus.


Kuliah pakar tersebut menghadirkan tiga pemateri yang mengupas tuntas topik seputar gluten, mulai dari aspek struktur, sifat, hingga dampaknya terhadap kesehatan. Selain itu, forum ini juga membahas inovasi produk bakery berbasis pangan lokal serta urgensi pengembangan inovasi pangan di Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya pangan beragam dan berserat tinggi.

HRD Ganep's Tradisi Solo Yogi Huda Setyawan, S.TP menyampaikan melalui perjalanannya yang telah bekerja pada bidang pangan selama 18 tahun. Sebagai produk dengan bahan lokal yang khas sarat akan nilai budaya, keberhasilan Roti Kecik dalam menjaga eksistensinya tidak hanya bertumpu pada kualitas rasa, melainkan pada kemampuan adaptasi pemasarannya yang inklusif.


Sementara Bapak. Binardo Seno M. S.T.P.,M.Sc menyinggung adanya rasa minder dari generasi sekarang untuk mengonsumsi makanan dengan komponen bahan lokal. Hal inilah yang sering kali membuat produk lokal kalah bersaing secara visual dan rasa jika dibandingkan dengan produk menggunakaan terigu, sehingga memicu rasa minder tersebut muncul.

Untuk itu terdapat solusi inovatif berbasis rekayasa teknologi pangan, dengan penerapan strategi Tepung Komposit (mengombinasikan beberapa tepung lokal untuk saling melengkapi profil gizi dan tekstur) serta pemanfaatan Hidrokoloid Alami (seperti Gum, CMC, dan Psyllium Husk). Bahan-bahan ini berfungsi meniru elastisitas gluten, menahan gas, dan memperbaiki volume adonan agar produk bebas gluten tetap memiliki tekstur yang lembut dan kenyal.


Diskusi semakin mendalam saat Ibu Tenagy Hartanto, S.T.P., M.Sc.,PhD memaparkan dampak fisiologis dari penggunaan terigu. Dalam penerapan inovasi produk bakery, ia menegaskan bahwa perlu dipahami penggunaan terigu memberikan efek yang dominan untuk tubuh. Gluten, yang menjadi andalan pada terigu, mengandung protein gliadin.

"Protein gliadin inilah yang memicu respons imun dan merusak usus pada kelompok yang rentan," tegas Ibu Tenagy. Ia membeberkan data bahwa sekitar 1,4% populasi menderita Celiac Disease, 1% alergi gandum, dan 6% sensitivitas gluten non-celiac (NCGS), Lebih lanjut, Tenagy menjelaskan bahwa proses pencernaan kita tidak sepenuhnya mampu memecah gluten. Potongan gluten yang keras kepala ini bertahan terhadap proses pencernaan dan menghasilkan immunogenic peptides. Pada orang dengan Celiac Disease, tubuh menganggap sisa potongan ini sebagai ancaman, sehingga sistem imun justru menyerang usus itu sendiri.

Acara yang berlangsung secara hibrida (offline dan online) ini dihadiri oleh mahasiswa, praktisi pangan, serta perwakilan dari berbagai instansi. Kegiatan ini juga dimeriahkan oleh penampilan vokal dari mahasiswa teknologi rekayasa pangan. Pada akhirnya, inovasi pangan lokal bukan sekadar upaya memanjakan lidah tanpa rasa minder, melainkan sebuah investasi untuk kesehatan jangka panjang. Dengan beralih ke pangan bebas gluten yang kaya akan prebiotik, kita telah mengambil langkah nyata dalam menjaga keseimbangan mikrobiota usus, memperkuat imunitas tubuh, sekaligus melestarikan kearifan pangan Nusantara.



berita_lain